Rabu, 31 Juli 2013 - 0 komentar

Aku Ada . . .



Aku ada tanpa harus berteriak memanggilmu atau berlalu lalang di depanmu agar kamu melihatku. Cukup dari jauh. Cukup memperhatikanmu dan tahu kamu bisa baik-baik saja. Lalu membohongi diriku sendiri bahwa melihatmu dari jauh pun tidak apa-apa.

Aku ada tanpa harus memelukmu atau mencium keningmu sebelum tidur. Kalaupun orang lain yang melakukan itu, sebenarnya aku memiliki perhatian yang jauh lebih besar dari dia. Tapi tidak apa. Yang penting aku ada. Menjagamu dengan apa yang aku bisa. Mengkhawatirkanmu mungkin, atau dengan pesan tersembunyi sebagai anonim agar kamu lebih berhati-hati ketika kamu sedang sakit atau jarimu terluka.

Aku ada, memperhatikanmu, membacamu, mendengarmu. Tidak harus di dekatmu, tidak harus kamu melihatku, tidak harus kulitku menyentuh kulitmu. Meski aku ingin tiga hal itu terjadi lebih dari yang kamu tahu. Tapi dari jauh pun cukup. Meski sekadar untuk melihat kebodohan-kobodohan yang sama yang lagi-lagi kamu lakukan, lalu berharap suatu hari kamu menghentikannya. Kebodohan-kebodohan yang kamu tahu hal-hal seperti itu bahagianya hanya sementara. Aku masih mengenalmu, sangat. Masih hapal juga kebiasaanmu, sangat.

Senin, 29 Juli 2013 - 0 komentar

Mulai malam ini . . . .



Kadang, aku merasa ingin tahu seperti apa rasanya menjadi dia. Rindunya, sakitnya, cintanya. Yang rela menunggumu berlama-lama, yang begitu kamu menelepon untuk datang, dia akan segera datang. Lalu juga merasakan bagaimana berdebarnya dan betapa excitednya dia setiap kali kamu memanggilnya untuk bertemu. Ya, bagaimana rasanya?

Atau, aku bisa juga ingin tahu seperti apa rasanya menjadi dia, yang ketika sedang suntuk-suntuknya, lalu ada pesan masuk darimu, dan tiba-tiba saja kata suntuk langsung hilang dari kamus hidupnya. Kamu, adalah kekuatan dan semangat dia. Tidak perlu melihat Golden Waysnya Mario Teguh, Cukup satu kalimat sederhana darimu di layar hape-nya.

Atau, mungkin juga ingin tahu seperti apa rasanya menjadi dia, yang ketika kamu berulang tahun, dia sibuk membuatkan puisi dan mencari kado ke sana kemari. Menikmati setiap momen yang dipikirkan dan kebingungannya, apakah kado ini akan kamu suka, atau yang itu? Atau yang di toko sebelumnya tadi? Atau…? Ya, seperti itu. Bingung tapi mungkin bahagia.
- 0 komentar

aku beri tahu rasanya melelahkan . . . .



Sudah pernah melihat dan mendengar caramu bercerita? Sesekali lihat, rasakan dan dengarkan. Perhatikan benar cara kamu tertawa; kerenyahannya, keriangannya, kelucuannya, semuanya. Perhatikan benar juga bagaimana kamu menggerak-gerakkan tanganmu lucu mencontohkan setiap ceritamu. Mungkin saja dari sana, kamu bisa tahu kenapa aku selalu memiliki rasa rindu.

Dan kapan pun aku menemanimu bercerita itu, kalau saja kamu sadar, kadang aku memalingkan mukaku sebentar. Itu karena aku takut ada kalimat yang melompat keluar, seperti ‘Aku selalu suka ketika kamu bercerita’, misalnya. Atau sembunyi-sembunyi aku sering mengelus dada kiriku ketika kamu tertawa. Itu juga sebenarnya untuk menenangkan hatiku, agar tingkahku tetap wajar. Aku takut melakukan tindakan yang memalukan karena gugup melihat tawamu.


Tapi aku suka seperti ini. Menemanimu berlama-lama bercerita seperti ini. Karena aku suka semuanya tentang kamu. Aku suka mendengar ceritamu dan merekam setiap detailnya dalam kepala. Lalu, aku akan membuka kembali file itu malam harinya, dan membayangkannya berlama-lama. Atau di lain waktu, aku memotret senyum dan tawamu diam-diam dari mataku lalu menyalurkannya, juga ke kepala. Sebelum tidur, kadang aku buka kembali file potret-potretnya. Itu sudah cukup untuk membuatku tersenyum seharian keesokan harinya.

- 0 komentar

kalau kamu ? . . .



Pernah suatu ketika, aku sebegitu khawatirnya sampai tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya memandangi handphone, menunggu kabarmu sambil terus bertanya-tanya. Itu terjadi ketika untuk pertama kalinya kamu pergi dengannya.

Lalu aku tidak tahan lagi dengan kepenasaranku. Aku meneleponmu dan bertanya, "Apa kamu baik-baik saja?"

Kamu setengah berbisik menahan bahagia, "Iya. Tentu saja aku baik-baik saja. Dia lelaki luar biasa. Kamu harus mengenalnya. Aku rasa aku jatuh cinta."
- 0 komentar

Move On . . .



Mungkin, salah satu hal yang susah dilakukan di dunia ini adalah melepaskan sesuatu yang bukan untukmu.

Tetapi mungkin juga sebenarnya, kamu hanya harus belajar tersenyum dan tertawa seperti biasa. Hanya saja kali ini tanpanya dan bukan lagi karenanya. Kali ini benar-benar karenamu sendiri dan karena kamu bahagia menjadi apa pun kamu, bersama siapa pun yang memang untukmu nanti.

Karena pada akhirnya, mau tidak mau, kamu hanya harus menyadari bahwa kalau memang bukan untukmu, mau dipikirkan dan diusahakan seberat apa pun juga, tetap tidak akan menjadi milikmu. Tapi mungkin kamu baru bisa melepaskan dia setelah menyadari itu.

Dan pada akhirnya juga, pelan-pelan, kamu akan melupakan. Pelan-pelan, ingatanmu tentang dia akan memudar. Pelan-pelan, kamu hanya akan mengingatnya kapan-kapan. Itu pun kebetulan ketika kamu melihat foto dia atau ada teman yang menanyakannya. Tapi pelan-pelan. Pelan-pelan. Yang banyak tidak dimengerti orang adalah 'pelan-pelan'nya.
Sabtu, 27 Juli 2013 - 0 komentar

Nanti . . . .



Kalau harga yang harus ditebus untuk mengatakan mencintaimu adalah kamu menjauh, itu terlalu mahal.
Lupakan.

Ya, aku lebih suka seperti ini. Berlama-lama memperhatikanmu dari jauh. Menghafal setiap gerakanmu ketika berjalan atau ketika kamu duduk. Mungkin juga menghafal hal-hal lainnya darimu seperti ketika kamu mengangkat sendok ketika makan atau meminum ****** panas favoritmu. Ya, hal-hal seperti itu. Kalau beruntung, mungkin aku bisa mendekatkan diri dan mendengar suaramu. Itu kalau beruntung.

Memang, aku bisa saja berteriak-teriak di sekitarmu untuk mencari perhatianmu. Tapi tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku juga bisa saja mengirimimu buku-buku yang bagus dan pasti kamu suka. Ah, aku ingin sekali melakukan itu. Memberi kejutan-kejutan kecil untukmu. Tapi tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Atau, aku juga bisa menelepon handphonemu untuk sekadar mendengar suaramu lalu menutupnya kembali. Seperti anak kecil yang sedang mengalami cinta monyet. Aku sudah lama mencari tahu. Jadi, aku sudah tahu semuanya. Tapi tetap tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku sudah bilang bukan, aku tidak akan mencari perhatianmu? Aku lebih suka seperti ini. Memperhatikanmu sembunyi-sembunyi.

Kamis, 25 Juli 2013 - 0 komentar

Sebenarnya . . .

Kamu, bisa meminta waktumu sebentar? Tenang saja, tidak membutuhkan telingamu, hanya membutuhkan matamu untuk membaca. Itu pun kalau kamu bersedia. Ini tentang timelineku, tentang twitku.
Iya, aku tahu. Mungkin tidak terlalu penting. Masalahnya, sebagian besar twitku tentangmu. Iya, tentangmu. Sekarang sudah paham kenapa aku ingin kamu mengetahui ceritaku tentang timelineku, bukan? Boleh kuteruskan menulis dan kamu nanti membaca?
Kalau kamu melihat twit seperti ini dariku,
Selamat pagi, kamu.
Atau seperti ini,
Lagi-lagi kamu, sedang bersembunyi di balik setiap selamat pagiku.
Itu untukmu. Kata ‘kamu’ di setiap tulisanku, selalu tentangmu. Dan masih kulakukan sampai sekarang. Entah sampai kapan.


Dulu juga, kamu pernah bersedih bukan? Tentang lelaki yang melukaimu. Saat itu kamu bercerita tentang masa lalumu itu di salah satu blogmu. Bahwa lelaki itu, melukaimu. Lalu aku menulis twit,


Masih ingat jugakah twitku yang ini?
Kalau hatimu merasa tenang, hangat, dan nyaman, barangkali karena namamu sedang kudoakan.
Asal tahu saja, aku memang selalu mendoakanmu. Di subuhku, di Dhuhaku, di siangku, di asharku, di maghribku, di malamku, bahkan di sepertiga malamku. Pasti di waktu-waktu itu, hatimu merasa nyaman bukan? Oh, tidak. Aku tidak pernah berdoa agar kamu menjadi milikku. Tidak sekalipun terpikir berdoa itu. Doaku hanya agar kamu selalu baik-baik saja dan berbahagia, di mana pun, bersama siapa pun, sedang melakukan apa pun. Itu saja. Bahkan, doa tentangmu selalu jauh lebih dulu dari doaku sendiri.